Nabi Muhammad SAW bersabda “Orang yang cerdas adalah orang yang pandai menghisab dirinya di dunia dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang dirinya suka mengikuti hawa nafsunya dan hanya suka berharap kepada Allah tanpa melakukan apa-apa.” (HR. At-Tirmidzi)
Kehidupan samurai diibaratkan bunga sakura yang umurnya sangat singkat. Dalam Bushido Shonshinsu karya Taira Shigesuke, topik tentang ‘mengingat kematian’ ditempatkan di bagian paling mendasar. Seorang samurai harus ingat akan kematian sepanjang waktu. Cara mengingat kematian bukan sekedar berpangku tangan, namun memenuhi semua kewajiban publik maupun pribadi siang dan malam. Mereka juga tidak takut mati, dan rela melakukan dalam tugas dan perjuangan apapun meski nyawa menjadi taruhannya.
“Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan amanah; dan tiada agama pada orang yang tidak menunaikan janji” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban)
Gi (integritas) adalah nilai yang harus dipegang oleh seorang samurai, yaitu senantiasa mempertahankan etika, moralitas, dan keberanian. Integritas merupakan nilai bushido yang paling utama. Kata integritas mengandung arti keutuhan meliputi seluruh aspek kehidupan, terutama antara pikiran, perkataan, dan perbuatan.
“Bukan dikatakan pemberani karena seseorang cepat meluapkan amarahnya. Seorang pemberani adalah mereka yang dapat menguasai diri (nafsu)-nya sewaktu marah” (HR Bukhari dan Muslim)
Yu (keberanian) merupakan sebuah karakter dan sikap untuk bertahan demi prinsip kebenaran yang dipercayai meski mendapat berbagai tekanan dan kesulitan. Keberanian merupakan ciri para samurai, mereka siap dengan resiko apapun termasuk mempertaruhkan nyawa demi memperjuangkan keyakinan. Dalam kode bushido sikap pemberani tidak saja terlihat dalam situasi perang, namun juga dalam keadaaan damai.
“Sesungguhnya Allah SWT Maha Pemurah, Dia mencintai sifat pemurah, dan Dia mencintai akhlak yang mulia serta membenci akhlak yang rendah.” (HR. An-Na’im melalui Ibnu Abbas ra.)
Bushido memiliki aspek keseimbangan antara maskulin (yin) dan feminin (yang). Jin (kemurahan hati) yaitu mencintai sesama, kasih sayang, dan simpati mewakili sifat feminin. Meski berlatih ilmu pedang dan strategi berperang, para samurai harus memiliki sifat pengasih dan peduli pada sesama manusia.
“Sesungguhnya Allah SWT Maha Santun, dan menyukai kesantunan dalam segala hal.” (HR Bukhari)
Rei (penghormatan) yaitu bersikap santun dan hormat pada orang lain. Ksatria tidak pernah bersikap ceroboh, namun senantiasa menggunakan kode etiknya secara sempurna sepanjang waktu. Sikap santun meliputi cara duduk, berbicara, bahkan dalam memperlakukan benda atau senjata.
“Malu adalah sebagian dari Iman” (HR Bukhari dan Muslim)
Meiyo (nama baik, kehormatan): kemuliaan dan menjaga kehormatan. Bagi samurai cara menjaga kehormatan adalah dengan menjalankan kode bushido secara konsisten. Seorang samurai memiliki harga diri yang tinggi, yang mereka jaga dengan cara perilaku terhormat. Salah satu cara mereka menjaga kehormatan adalah tidak menyia-nyiakan waktu dan menghindari perilaku yang tidak berguna. Pada akhirnya, malu menjadi budaya leluhur dan turun-temurun bangsa Jepang.
Rasulullah bersabda, “Engkau tetap harus setia mendengar dan taat kepada pemimpin meskipun (ibaratnya) ia memukul punggungmu atau mengambil hartamu, maka tetaplah untuk setia mendengar dan taat!” (HR. Muslim)
Chugo (loyal): kesetiaan kepada pemimpin dan guru. Kesetiaan ditunjukkan dengan dedikasi yang tinggi dalam melaksanakan tugas. Puncak kehormatan seorang samurai adalah mati dalam menjalankan tugas dan perjuangan.
Dirangkum dari buku “Spiritual Samurai” karya Ary Ginanjar.
Sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150227615002082
No comments:
Post a Comment